Burnt Out, Jangan sampai Deh

March 9th, 2010 by farihik

Burnt out adalah keadaan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang disebabkan oleh situasi kerja yang penuh tuntutan terus-menerus. Anda rentan kena burnt out jika….

- Identitas Anda yang utama ada di tempat kerja dan kurang ada keseimbangan antara kerja dan kehidupan personal Anda.
- Anda mencoba menjadi segalanya bagi semua orang.
- Kerja Anda monoton.
- Pekerjaan Anda berada di posisi penolong seperti juru rawat, konselor, guru, polisi.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut untuk mencari tanda-tanda burnt out dalam diri Anda.
1. Apakah Anda merasa lebih sinis, kritis, dan sarkastis di tempat kerja?
2. Apakah Anda kehilangan kemampuan merasakan kebahagiaan?
3. Apakah Anda menenggelamkan diri pada pekerjaan dan kesulitan memulainya ketika datang ke tempat kerja?
4. Apakah Anda menjadi lebih mudah marah dan kurang sabar pada rekan sekerja, pelanggan, atau klien?
5. Apakah Anda merasa tak bakal menemukan energi untuk tetap produktif atau merasakan kepuasan dari prestasi Anda?
6. Apakah Anda kesulitan menertawakan diri sendiri?
7. Apakah Anda lelah mendapati rekan kerja bertanya, “Anda tak apa-apa?”
8. Apakah Anda merasakan kekecewaan pada pekerjaan Anda?
9. Apakah Anda sedang mengobati diri sendiri, baik dengan makanan, obat-obatan, atau alkohol, agar lebih baik atau tak merasakan apa pun ketika kerja?
10. Adakah perubahan pada pola tidur atau nafsu makan?
11. Apakah Anda menderita sakit kepala, nyeri leher, atau nyeri punggung bagian bawah?

Jika Anda menjawab ya untuk satu dari pertanyaan di atas, Anda mungkin sedang mengalami burnt out. Anda mungkin juga sedang sedih. Butuh solusi segera, refreshing misalnya, istirahat … rehat agak lama ataupun sejenak sangat dibutuhkan.

Kucing Hoki ???

March 5th, 2010 by farihik

Ada patung kucing yang lucu. Bentuknya mungil, satu tangan terangkat ke atas. Yang menggemaskan, tangan si kucing bergerak-gerak seolah sedang melambai. Para pedagang dan pemilik toko percaya, kucing berwarna putih atau keemasan atau warna apapun, antara lain bertuliskan “mendatangkan uang memasukkan benda pusaka”, ini bisa menarik pelanggan untuk datang dan berbelanja. Karenanya, patung kecil ini biasa diletakkan di dekat pintu masuk toko atau meja kasir atau di tempat tertentu. Untuk hoki atau keberuntungan.

Sayangnya, hal ini hanyalah sebuah mitos. Semua pasti setuju ramai tidaknya sebuah pusat perbelanjaan atau toko tertentu bukan disebabkan oleh lambaian tangan patung seekor kucing, melainkan karena usaha dan kerja keras ”pemiliknya”.

Untuk kita ketahui, patung kucing yang sedang melambaikan tangan, itu sebenarnya berasal dari Jepang. Dikisahkan pada masa Edo (江戶) sekitar 1615-1623 Masehi, di Distrik Setagaya, wilayah Han Hikone terdapat sebuah kuil tua bernama Gotokuji (宏德寺). Pemimpin kuil memiliki seekor kucing bernama Gyoku (玉). Meskipun hidup kekurangan, ia tak pernah lupa memberi kucingnya makan.

Tetapi suatu malam, kepala kuil betul betul kehabisan makanan. Tanpa sadar ia berkata kepada kucingnya yang sedang tidur, “Kau tentu tahu betapa miskinnya kita, apakah kau memiliki jalan keluar?” Si kucing rupanya tidak sepenuhnya tidur, ia mendengar keluhan tuannya. Lalu tanpa mengeluarkan suara, kucing tersebut berjalan keluar.

Keesokan harinya hujan turun dengan lebatnya. Seorang pejabat bernama Li Naotaka (井伊直考) yang sedang berjalan jalan, berteduh di depan kuil. Tetapi di depan pintu ia dikejutkan oleh seekor kucing yang melambai-lambaikan tangan kepadanya. Terbujuk rasa ingin tahu, ia mengikuti kucing tersebut masuk ke dalam menuju altar utama. Kilat menyambar, pohon di dekat pintu kuil, lalu tumbang.

Petinggi Li Naotaka yang merasa terhindar dari musibah berterima kasih kepada kucing dan menjadikan kuil tersebut sebagai tempat beribadah keluarga. Setelah Li Naotaka meninggal, kuil Gotokuji berganti nama menjadi Manekineko-do (豪德寺). Di kemudian hari, kuil yang menjadikan kucing sebagai dewa rezeki itu dikenal sebagai Kuil Kucing.

Menurut cerita, di daerah itu juga tinggal seorang nenek yang memelihara seekor kucing. Karena tidak bisa memberi makan, terpaksa ia memberikan binatang peliharaannya itu pada salah seorang kerabat. Tapi malamnya ia bermimpi, kucingnya itu menyuruh si nenek membuat boneka kucing supaya mendapatkan banyak uang.

Sang nenek menurutinya. Ia membuat patung kucing dan meletakkannya di altar. Dan entah bagaimana, kabar gembira datang silih berganti. Hidup si nenek tak lagi bergantung pada orang lain. Para tetangga yang mengetahui hal itu pun ramai ramai datang meminjam patung kucing. Karena banyak permintaan, si nenek meminta perajin membuat patung patung kucing yang sama. Ia lalu membuka sebuah toko khusus yang menjual patung kucing. Bisnisnya sangat laris dan terkenal hingga ke mana-mana!

Itulah asal-usul patung kucing melambai yang sekarang menjadi alat feng shui. Lalu setelah mengetahuinya, masihkah Anda menggantungkan keberuntungan pada patung seekor kucing?

Hidup Saat ini

March 3rd, 2010 by farihik

Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang dikenal bijak di desa itu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras, sambil suaranya terdengar memanggil-manggil gurunya.
Si guru sambil mengusap matanya dan menahan kuap membuka pintu sambil berkata, “Ada apa anakku? Pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku. Ada sesuatu yang penting?” Pemuda menjawab, “Ampun guru, maafkan saya terpaksa mengganggu tidur guru. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.” Si guru kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam rumah dan pemuda itu pun segera menceritakan kegundahannya, yakni semalam dia bermimpi dijemput malaikat dan diajak pergi meninggalkan dunia ini. Dia ingin menolak tetapi sesuatu seperti memaksanya harus pergi. Saat tarik menarik itulah dia terbangun sambil berkeringat dan tidak dapat tidur lagi. Timbul perasaan takut dan tidak berdaya membayangkan bila malaikat benar-benar datang kepadanya.
Si pemuda kemudian bertanya kepada gurunya, “Guru, kapan kematian akan datang kepada manusia?” Gurunya menjawab, “Saya tidak tahu anakku. Kematian adalah rahasia Tuhan”.
“Aaaakh, guru pasti tahu. Guru kan selalu menjadi tempat bertanya bagi semua orang di daerah sini,” desak si murid. “Baiklah. Sebenarnya rata-rata manusia meninggal pada usia 70 sampai 75 tahun. Tetapi sebagian ada yang tidak mencapai atau lebih dari perkiraan tersebut.” Merasa tidak puas dia kembali bertanya, “Jadi, umur berapakah manusia pantas untuk mati?” Sambil pandangannya menerawang keluar jendela, sang guru menjawab, “Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu, manusia semakin tua dan kapan pun bisa mengalami kematian”. Si murid bertanya terus, “Lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup ini?”

Hiduplah Saat Ini
”Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin. Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia siakan waktu. Bekerjalah secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu! Mengerti?” Dengan wajah gembira si murid berkata, “Terima kasih guru, saya mengerti. Saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, berani menghadapi hidup ini, sekaligus menikmatinya. Saya pamit guru.”

Hiduplah Saat Ini
Hiduplah saat ini, tidak usah menyesalihari kemarin, karena hari kemarin sudah berlalu, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok belum datang,

Hari ini
Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan , kebahagian bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penuh totalitas!
Sekali lagi,
Hiduplah Saat Ini
Hiduplah saat ini!!

Ya Rasulallah

February 20th, 2010 by farihik

Ada pepatah tak kenal maka tak sayang, maka kita harus lebih banyak mengenalnya agar lebih menyayanginya.
Berkaitan dengan keadaan kita di hari akhir, kita akan bersama dengan orang-orang yang disayang.
Jadi bagaimana kita akan berada di surga bersama Rasulullah, kalau tidak ada rasa cinta kepadanya?
Tidak ada kerinduan untuk bersamanya? Berterima kasih atas perjuangan mendakwahkan Islam sehingga sampai kepada kia?
Cinta memang tidak bisa datang dengan sendirinya, untuk menumbhkan kecintaan kepada Beliau, kita harus banyak mengetahui Beliau yang sebenarnya, melalui Al-Quran dan sunnah-sunnanya.
Sungguh Semakin mengenal Rasulullah Shalallahu ”alaihi wa sallam kita akan semakin mencintainya.

Berikut secuil kisah Rasulullah Shalallaahu ”alaihi wa sallam, agar kita lebih mengenal beliau dan lebih mencintainya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya adzan. Memanggil manusia untuk sholat berjama”ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshor ke Masjid Rasulullah saw. Setelah selesai sholat dua raka”at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah swt, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang sangat berkesan, membuat hati terharu dan menangis mencucurkan air mata. Beliau berkata antara lain :

” Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da”i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapak yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum ia melakukannya di hari Kiamat nanti”

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri seorang laki-laki bernama ”Ukasyah Ibnu Muhsin”. Ia berdiri di hadapan Nabi s.a.w sambil berkata :

“Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung-sampingku; saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya…Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri ?”

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, ” Supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku ” kata beliau

Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya. Ia heran dan tak habis pikir, “Inilah Rasulullah memberikan kesempatan mengambil qishas terhadap dirinya!”
Diketoknya pintu rumah Fatimah yang menyahut dari dalam : “Siapakah diluar?”, “Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasullah” jawab Bilal.

” Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tabta Fatimah kepada Bilal.

“Ya Fatimah ! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya ” Bilal menegaskan.

“Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah ?” tukas Fatimah keheranan. Biarlah hamba saja yang menjadi ganti untuk dicambuk.

Bilal pun mengambil cambuk dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan ”Ukasyah

Suasana mulai tegang… Semua sahabat bergerak…. Semua berdiri…. Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata melotot. Memandang Ukasyah dan sebilah cambuk.

Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, “Hai ”Ukasyah ! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engaku pukul Rasulullah s.a.w !”

Mungkin saat itu Umar meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkan akan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah.

Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini : “Duhai sahabatku, Duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : ” Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi s.a.w. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tangnmu dan deralah aky dengan tangn engkau sendiri!”
Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah… ia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin.

Nabi pun menahan. ” Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali !”

Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. ” Hai Ukasyah ! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri !”

Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata “Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku!”

Dan akhirnya Nabi berkata : “Hai ”Ukasyah ! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!”

“Ya Rasul Allah ! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku” Kata Ukasyah. kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berpikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, ia malah meminta Rasul membuka baju. “Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya ini orang…”

Tanpa bicara….
Tanpa kata…
Rasulullah membuka bajunya.
Semua yang hadir menahan napas…
Banyak yang berteriak sambil menangis…
Tak terkecuali…. Termasuk Ukasyah…
Ada yang tertahan di dadanya. Ia segera maju melangkah, melepas cambuknya dan…

Kejadian selanjutnya tatkala ”Ukasyah melihat putih tubuh Rasulullah dan tanda kenabian di punggungnya, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya sambil berkata : “Tebusanmu adalah Rohku ya Rasulallah, siapakah yang tega sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengqishas engkau ya Rasul Allah ? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah swt dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka”

Akhirnya berkatalah Nabi saw “Ketahuilah wahai para sahabat ! barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka melihatlah kepada pribadi laki-laki ini!”

Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium ”Ukasyah di antara kedua matanya. Rasa curiga berubah cinta. Buruk sangka berubah bangga. Berkatalah mereka : “Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah s.a.w di surga kelak!”

Ya Allah! Demi kemuliaan dan kebesaran Engkau mudahkan jugalah bagi kami mendapatkan syafa”atnya Rasulullah s.a.w di kampung akhirat yang abadi ! Amien ! Mau”izhatul Hasanah

Allah SWT berfirman:
“Yaa siin…Demi Al Quran yang penuh Hikmah…
Sesungguhnya Engkau (Muhammad) sungguh sebagian dari para Rasul-rasul…
Yang berada di JALAN yang LURUS” (QS. Yaasiin : 3-4)

” Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi,
Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan salam taslim kepadanya.” (QS Al Ahzab)

“Allahumma shalli ”alaa Nabiyinaa Muhammad wa”alaa aalihi wa shahbihi wa sallim”

Perenungan Kita

February 14th, 2010 by farihik

Ada sebuah perenungan yang berupa dialog maya antara Tuhan dengan manusia (man)

Man : Selamat pagi Tuhan, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit aku ingin bertanya…

GOD : Ooo..waktu-Ku adalah KEKEKALAN, tidak ada masalah tentang waktu. Apa pertanyaanmu?

Man : Terima kasih…. Apa yang PALING MENGHERANKAN bagi-Mu tentang kami “MANUSIA”?

GOD : Kalian itu makhluk yang “ANEH”….

Pertama, suka MENCEMASKAN MASA DEPAN , sampai LUPA dengan HARI INI…Sehingga kalian LUPA BERSYUKUR dan BERUSAHA.

Kedua, kalian HIDUP di dunia seolah-olah KEKAL TIDAK akan MATI. Kalian LEBIH BANYAK mengumpulkan BEKAL hidup di DUNIA, daripada BEKAL setelah MATI. Padahal hidup di DUNIA hanyalah SEMENTARA, dan hidup SETELAH MATI adalah KEKEKALAN.

Ketiga, kalian cepat BOSAN sebagai ANAK-ANAK dan TERBURU-BURU ingin DEWASA, namun setelah DEWASA kalian KEKANAK-KANAKAN : suka bertengkar, ngambek, dan ribut karena soal soal sepele.

Keempat, kalian RELA KEHILANGAN KESEHATAN demi MENGEJAR UANG, tetapi kemudian membayar dengan UANG untuk mengembalikan KESEHATAN.

Kelima, kalian lebih TABAH manakala Aku UJI dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT dibandingkan saat Aku uji dengan banyak rizki dan kesehatan.
Kala kalian MELARAT dan SAKIT, kalian LEBIH DEKAT kepada-Ku dengan ibadah dan doa.
Padahal Aku SENANG bila kalian MENDEKAT kepada-Ku, tapi kalian tidak suka dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT tersebut.

Hal-hal itulah yang membuat hidup kalian SUSAH.

Man : Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup BAHAGIA ?

GOD : Sebenarnya semua nasihat sudah pernah diberikan.
Inilah satu lagi keanehan kalian : SUKA MELUPAKAN nasihat-Ku.
Baiklah Ku ulangi lagi ya beberapa nasehat yg penting:

1. Kalian harus sadar bahwa MENGEJAR RIZKI adalah sebuah KESALAHAN.
Yang seharusnya kalian lakukan ialah MENATA DIRI agar kalian LAYAK dikucuri rizki.
Ingat, rizki berasal dari-Ku.
Jadi JANGAN MENGEJAR RIZKI, tetapi biarlah RIZKI yang MENGEJAR kalian.

2. Ingat : “SIAPA” yang kalian miliki itu LEBIH BERHARGA dari pada “APA” yang kalian punyai.
Memilik “SIAPA” akan mendatangkan “APA”, Kehilangan “SIAPA” akan kehilangan “APA” juga…Tetapi bila kamu kehilangan “APA” masih ada “SIAPA” yang akan membantumu.
Jadi, PERBANYAKLAH teman, JAUHI permusuhan…

3. Jangan bodoh dengan CEMBURU dan membandingkan yang dimiliki orang lain, BERSYUKURLAH dengan apa yang telah kalian terima. Karena semuanya akan ditanya DARIMANA kamu dapatkan dan UNTUK APA dibelanjakan.

4. Ingat orang KAYA bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan harta yang paling banyak, tetapi adalah dia yang PALING “SEDIKIT” MEMERLUKAN hartanya, sehingga masih sanggup MEMBERI kepada sesamanya.

Sumber: Note’’s Lutfi M. Fauzan

Kasih Sayang

February 14th, 2010 by farihik

Seorang wanita baru menikah dengan pria yang dicintai dan tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Tidak lama setelah mereka berumah tangga, sangat terasa banyak ketidakcocokan di antara menantu dan sang mertua. Hampir setiap hari terdengar kritikan dan omelan dari ibu mertua. Percekcokan pun seringkali terjadi. Apalagi sang suami tidak mampu berbuat banyak atas sikap ibunya.

Saat sang menantu merasa tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu demi melampiaskan sakit hati dan kebenciannya.

Pergilah si menantu menemui teman baik ayahnya, seorang penjual obat ramuan tradisional. Wanita itu menceritakan kisah sedih dan sakit hatinya dan memohon agar dapat diberikan bubuk beracun untuk membunuh ibu mertuanya.

Setelah berpikir sejenak, dengan senyumnya yang bijak, si paman menyatakan kesanggupannya untuk membantu, tetapi dengan syarat yang harus dipatuhi si menantu. Sambil memberi sekantong bubuk ramuan yang dibuatnya, sang paman berpesan, “Nak, untuk menyingkirkan mertuamu, jangan memberi racun yang bereaksi cepat, agar orang-orang tidak akan curiga. Karena itu, saya memberimu ramuan yang secara perlahan akan meracuni ibu mertuamu. Setiap hari campurkan sedikit ramuan ini ke dalam masakan kesukaan ibu mertuamu dari hasil masakanmu sendiri. Kamu harus bersikap baik, menghormati,dan tidak berdebat dengannya. Perlakukan dia layaknya sebagai ibumu sendiri, agar saat ibu mertuamu meninggal nanti, orang lain tidak akan menaruh curiga kepada kamu.”

Dengan perasaan lega dan senang, diturutinya semua petunjuk sang paman penjual obat. Dilayaninya sang ibu mertua dengan sangat baik dan penuh perhatian! Setiap hari, ia menyuguhkan aneka makanan kesukaan si ibu mertua.

Tidak terasa, empat bulan telah berlalu dan terjadilah perubahan yang sangat besar. Dari hari ke hari, melihat sang menantu yang bersikap penuh perhatian kepadanya, ibu mertua pun merasa tersentuh. Ia berbalik mulai menyayangi si menantu bahkan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Dia juga memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa menantunya adalah seorang penuh kasih dan menyayanginya.

Menyadari perubahan positif ini, sang menantu cepat-cepat datang lagi menemui sang paman penjual obat, “Tolong berikan kepada saya obat pencegah racun pembunuh ibu mertua saya. Setelah saya patuhi nasihat paman, ibu mertua saya berubah sangat baik dan menyayangi saya seperti anaknya sendiri. Tolong paman, saya tidak ingin dia meninggal karena racun yang telah saya berikan”.

Sang paman tersenyum puas dan berkata “Anakku, kamu tidak perlu khawatir. Bubuk yang saya berikan dulu bukanlah racun, tetapi ramuan untuk meningkatkan kesehatan. Racun yang sebenarnya ada di dalam pikiran dan sikapmu terhadap ibu mertua. Sekarang semua racun itu telah punah oleh kasih sayang dan perhatian yang kamu berikan padanya.”

Hikmah untuk Kita…

Cerita di atas mengajarkan kepada kita betapa luar biasanya kekuatan kasih dan kekuatan perhatian.

Kasih dan perhatian mendatangkan kepedulian, ketulusan, dan kerelaan untuk berkorban. Kasih dan perhatian mampu melepaskan kita dari belenggu kesalahpahaman, meluluhkan ketidakpedulian, hati yang keras, dan pikiran yang penuh kebencian. Kasih dan perhatian juga mendatangkan kedamaian dan merekatkan perbedaan menjadi suatu kedekatan yang menyenangkan.

Jika setiap hari kita mau memberikan kasih sayang dan perhatian kepada orang di sekeliling kita, maka kehidupan kita pasti akan lebih bermakna dan berbahagia…

Nikmat itu syukur dan sabar

February 14th, 2010 by farihik

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang istirahat duduk di tepi sungai. Ayahnya kemudian mengambil persediaan air dan meminumnya. ” Bismillah…Alhamdulillah…air ini nikmat sekali. ”
Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Air ini ciptaan Allah yang luar biasa, dia bisa menghilangkan dahaga dan menambah tenaga. Air adalah sumber kehidupan makhluk hidup, tanpa air semua makhluk hidup akan matii.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya nikmat sekali, ciptaan Allah yang luar biasa, bisa menghilangkan dahaga dan menambah tenaga, dan sumber kehidupan makhluk hidup, serta tanpa air semua makhluk hidup akan matii. Ikan itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai, tahukah kamu dimana air ? Aku telah mendengar percakapan manusia yang luar biasa tentang air.”

Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air dan bertemu dengan temannya Si Katak. Kepada Katak Si Ikan ini menanyakan hal serupa, “Katak.. tahukah kamu diimanakah air ?”
Katakpun tertawa dan menjawab , “Tak usah gelisah temanku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, air itu luar biasa, sumber kehidupan dan tanpa air kita akan mati. Tetapi untuk mengetahuinya mari ikut denganku” Si katak melompat ke atas daun teratai diikuti oleh ikan. “Hap…hap…hap aku disini tidak bisa bernafas.” kata ikan, dan ikanpun melompat kembali ke air sungai. Akhirnya ikan tersebut memahami apa itu air, dan air itu memang luar biasa dan sumber kehidupannya.

Sahabat …..…
Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan,
Mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan,
Padahal ia sedang menjalaninya dan menyelaminya,
Bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai dia tidak menyadarinya.

Nikmat Tuhan itu seperti air di sekeliling ikan,
Sangat banyak melingkupi kehidupan kita,
Sehingga kita kadang tak sadar bahwa semuanya adalah nikmat-Nya.
Kita mengeluh mendapat musibah,
Padahal kita tidak pernah bersyukur atas nikmat yang tak terhingga.
Kita merasakan nikmat sehat bila kita sakit,
Kita merasakan nikmat kaya, setelah kita jatuh miskin,
Kita merasakan nikmat kebersamaan setelah orang dekat kita tiada,
Seperti ikan merasakan nikmat air ketika dia di daratan.

Firman Allah :
“ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zholim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).” (QS Ibrahim ayat 34)

Sahabat …….…
Kebahagiaan itu tidak bisa dicari,
Kebahagiaan itu tidak ada di luar diri,
Kebahagiaan itu ada di dalam diri.
Kebahagiaan adalah sikap bijaksana kita menghadapi setiap keadaan,
baik nikmat maupun musibah, yang kita bisa menikmati dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan ada bila sikap IKHLAS, SYUKUR dan SABAR ada di dalam diri.

Seperti Syaikh Ibnu Taimiyah yang tetap bahagia walaupun telah diasingkan dan dipenjara.
Beliau berkata “ Dipenjara aku berkholwat (mendekatkan diri kepada Allah), diasingkan aku tamasya, dibunuh aku syahid .“

Atau seperti Ummu Sulaim yang kehilangan anaknya pada waktu Abu Thalhah suaminya pergi menghadap Rasulullah SAW, tetapi beliau tetap bahagia.
Ummu Sulaim berkata kepada seluruh keluarganya: “Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti.”
Pada waktu suaminya datang dan bertanya “Bagaimanakah keadaan anakku?”
Ummu Sulaim menjawab: “Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya.”
Kemudian Ummu Sulaim menyiapkan makan malam untuknya dan ia pun makan dan minumlah. Selanjutnya dia memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut.
Selanjutnya Abu Thalhah bermesraan dengan isterinya dan menngaulinya.
Sewaktu Ummu Sulaim telah mengetahui bahwa suaminya telah kenyang dan selesai melampiaskan hasratnya, ia pun berkata kepada Abu Thalhah:

“Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembalinya apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?”

Abu Thalhah menjawab: “Tidak boleh menolaknya – yakni harus menyerahkannya.”
Kemudian berkata pula Ummu Sulaim isterinya: “Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?”
Abu Thalhah lalu marah dan berkata: “Engkau biarkan aku tidak mengetahui – kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran (maksudnya kotoran bekas bersebadan), lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku.”

Abu Thalhah lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah SAW. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah SAW. bersabda: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malam mu itu.”
Kemudian Ummu Sulaim hamil, dan setelah lahir diberi nama Abdullah oleh Rasulullah SAW.

Jadi Sahabat …..…
Kita bisa IKHLAS, BERSABAR dan selalu BERSYUKUR…
Apabila kita FOKUS atas NIKMAT Allah yang BANYAK
BUKAN atas SATU NIKMAT Allah yang diambil-Nya..

Wallahu a’lam bishowab

Kejujuran akan terus berlaku

February 4th, 2010 by farihik

di sebuah kerajaan. Karena raja tidak memiliki putra penerus, maka raja menganggap perlu mencari dan memilih calon penggantinya. Untuk itu, dibuatlah sayembara pemilihan ke seluruh negeri, agar diseleksi per daerah hingga ujian terakhir yang akan ditentukan oleh baginda raja sendiri.

Babak akhir, tersisa delapan orang yang memiliki kepandaian setara dan lulus seleksi. Di ibu kota kerajaan, mereka harus menjalani proses tes terakhir oleh sang raja. Raja dengan seksama menyeleksi mereka satu persatu. Di hadapan mereka raja berpesan, “Anak-anakku. Tugas sebagai abdi negara bukanlah hal yang mudah. Itu adalah amanah yang harus diemban dengan tanggung jawab penuh. Kalian berdelapan terpilih sebagai calon yang terbaik. Nah, sebagai tes terakhir, ini kuberi tiap orang 5 butir biji bibit tanaman. Tanam dan rawatlah seperti engkau nantinya harus memelihara kerajaan dan rakyat negeri ini. Pulanglah dan datanglah 2 minggu kemudian kemari beserta hasil tanaman yang kalian bawa pulang ini.”

Dua minggu kemudian, di hadapan raja, 7 pemuda dengan bangga memperlihatkan tanaman yang mulai tumbuh bertunas. Tiba giliran pemuda yang ke-8, dengan wajah malu dan kepala tertunduk, ia melihat ke arah pot yang dibawanya dan berkata, “Ampun baginda, maafkan hamba. Biji yang baginda berikan telah saya tanam, saya rawat dengan hati-hati, tetapi hingga hari ini bibit ini tidak mau tumbuh seperti yang diharapkan. Saya telah gagal menjalankan perintah baginda! Saya tidak mengerti dimana kesalahan saya, tetapi setidaknya saya telah berupaya maksimal. Saya serahkan semua keputusan di tangan baginda.”

Terlihat senyum penuh kepuasan kemudian disusul tawa terbahak-bahak sang baginda. “Hahaha…!” Semua yang hadir disitu saling berpandangan heran melihat reaksi raja seperti itu.

Lalu, Raja menepuk pundak si pemuda, dan berkata, “Terima kasih anak muda. Baginda senang dan puas. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Masih ada pemuda calon pemimpin bangsa di antara seluruh rakyat negeri ini!”

Sambil berpaling kepada semuanya, raja melanjutkan,” Dengar baik-baik. Pemuda ini telah memenuhi harapan terakhirku. Dia pemuda yang jujur, calon pemimpin kerajaan ini di masa depan. Memang tanamannya tidak tumbuh, sepertinya dia gagal! Tetapi sebenarnya, biji yang aku berikan kepada semua peserta telah aku rebus terlebih dahulu, jadi ..ya pasti tidak mungkin bisa tumbuh tunas walaupun dirawat sebaik apapun, karena biji itu telah mati. Aku kecewa sekali saat melihat tumbuhnya tunas yang dibawa anak-anak muda ini. Hai…kalian 7 pemuda, tidak jujur! Kalian pantas dihukum karena berani menipu baginda!”

Segera ketujuh pemuda itu berlutut memohon ampun, namun baginda raja langsung memerintahkan untuk menangkap dan menghukum berat ketujuh pemuda itu. Sungguh tragis, ambisi mereka untuk meraih jabatan tersandung karena ketidakjujuran .

Sahabat yang bijaksana

Kejujuran adalah mutiara pribadi yang sangat berharga, yang harus kita miliki dan pelihara dengan baik.

Kejujuran adalah “mata uang” yang berlaku di mana-mana. Walaupun kita hidup tidak berkelimpahan harta, namun dengan kejujuran, hidup kita akan bebas dari perasaan waswas, takut, dan cemas. Sehingga, kita akan menikmati kehidupan ini dengan tentram, damai, dan bahagia.

Bao Jun Shen Sang Dewa

February 4th, 2010 by farihik

Dewa Ikan Asin”. Itu adalah sindiran yang dipakai masyarakat China untuk menertawakan orang-orang yang mendewakan atau memercayai sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan tidak dimengerti. Ungkapan ini dalam bahasa aslinya disebut “bao jun shen.”

Ceritanya, entah berapa ratus tahun yang lalu, seorang pemburu berhasil menangkap seekor rusa kecil yang hidup di tepi Sungai Jun. Namun ia tidak segera membawa rusa itu pulang. Rusa itu ia ikatkan pada sebatang pohon di tepi jalan kecil yang hampir tidak pernah dilalui orang. Ia pun kembali berburu.

Tak lama kemudian, serombongan pedagang melintas di situ. Salah seorang dari mereka yang melihat rusa itu, berhenti dan melepaskannya, lalu membawanya serta dalam rombongan. Sebagai gantinya, di tempat yang sama, orang itu meletakkan seekor ikan asin. Ketika sang pemburu kembali, ia kaget melihat rusa kecilnya hilang. Hanya ada seekor ikan asin tergeletak di tempat ia mengikat rusa tangkapannya. Padahal setahunya, jalan ini belum pernah dilewati orang asing sebelumnya. Tetapi rusa kecilnya telah lenyap begitu saja dan berubah menjadi ikan asin. “Tidak salah lagi, pasti rusa itu jelmaan seorang dewa yang sakti,” guman batin sang pemburu.

Kejadian aneh itu pun segera tersebar luas. Tidak lama kemudian, beberapa orang datang ke tempat itu untuk meminta kesembuhan, rezeki atau supaya menang lotere. Karena banyak permintaan mereka yang terkabul, masyarakat pun berbondong-bondong datang ke sekitar desa itu untuk berziarah. Akhirnya, sebuah kuil yang cukup besar pun didirikan utnuk menyembah di dewa ikan asin: “bao jun shen”. Tetabuhan musik terus menerus terdengar mengiringi mereka yang sedang memanjatkan doa.

Beberapa tahun kemudian, si penukar rusa dengan ikan asin kembali melewati tempat terebut. Ia begitu tertarik dengan keramaian kuil dan bertanya apa yang sedang dilakukan orang-orang yang ada di dalam. Setelah bertanya dan mengetahui sejarah berdirinya kuil, ia tertawa terbahak-bahak.

“Dewa macam apa? Sayalah yang meletakkan ikan asin di tempat itu,” katanya. Ia lalu naik ke altar dan mengambil ikan asin yang telah didewakan itu, dan pergi begitu saja.

Setelah kejadian itu istilah dewa ikan asin dipakai untuk menertawakan seseorang yang mendewakan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu.

Tak berbeda dengan cerita di atas, orang pun sering medewakan feng shui. Bahkan sejak dulu masyarakat China meyakini feng shui dapat membuat orang menjadi kaya raya dan panjang usia. Karena segala sesuatu yang terbaik hanya untuk raja, maka ilmu “sakti” feng shui yang dapat membuat hidup seseorang beruntung, menjadi eksklusif. Ilmu ini tidak boleh beredar di masyarakat jelata selain raja. Ini membuat banyak orang penasaran. Mereka ingin menggunakan feng shui supaya hidup mereka beruntung seperti raja.

Sayangnya mereka yang menguasai feng shui dengan baik, sangatlah sedikit. Di sisi lain, sekelompok orang yang mengamati fenomena itu,melihatnya sebagai sebuah peluang. Mereka memanfaaatkan keinginan masyarakat untuk cepat kaya dan selalu beruntung dengan mengemukakan berbagai macam teori feng shui yang sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat. Di antaranya, ketika tidur kaki harus selalu menghadap ke timur. Alasannya, agar kaki terjemur sinar matahari sehingga selalu sehat. Kilah yang tidak masuk akal. Namun kenyataannya, justru produk-produk dewa ikan asin seperti itu yang mengendap di masyarakat awam.

Rasul dengan Jeruk Limau

February 4th, 2010 by farihik

Suatu Hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk Baginda. Cantik sungguh buahnya. Siapa terlihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira.Hadiah itu dimakan oleh Baginda Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan senyuman.

Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Sahabat-sahabat agak hairan dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya.

Dengan senyuman Rasulullah menjelaskan ”Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang Ada di antara kalian akan mengenyitkan Mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya”.Begitulah akhlak Rasullullah SAW.

Baginda tidak akan memperkecil- kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, Dan dari orang yang bukan Islam pula.

“Selemah- lemah manusia ialah org yg tidak dapat mencari sahabat… Dan orang yg lebih lemah dari itu ialah orang yg menyianyiakan sahabat yang telah dicari dan berburuk sangka pula kepadanya”(-Sayidina Ali bin Abi Thalib)